Dari Debut hingga Dominasi, Perjalanan Olahraga China di Asian Games
Asian Games ke-20 resmi dibuka di Nagoya, Jepang. Momen tersebut sekaligus menjadi kesempatan menelusuri perjalanan olahraga China selama lebih dari lima dekade, sejak debut di Teheran pada 1974 hingga menjadi kekuatan dominan di Asian Games.
China pertama kali tampil di Asian Games Teheran pada 1974. Saat itu, pebasket Zhang Dawei dipercaya membawa bendera China dalam upacara pembukaan.
“Saya memblokir semua hal di sekitar saya. Yang saya pikirkan hanya memegang bendera dengan benar dan menjaga langkah bersama tim,” kenang Zhang.
Debut itu memiliki makna lebih dari sekadar olahraga karena China sebelumnya relatif absen dari kompetisi internasional selama lebih dari satu dekade.
Su Zhibo kemudian merebut emas pertama China melalui nomor pistol bebas putra, sementara Li Yamin mencatat rekor dunia pada pistol standar 25 meter putri.
China mengakhiri Asian Games tersebut dengan 33 emas dan menempati posisi ketiga klasemen.
Pada 1979, posisi China di Komite Olimpiade Internasional dipulihkan. Tiga tahun kemudian, di Asian Games New Delhi 1982, China merebut 61 emas dan untuk pertama kalinya memuncaki klasemen, menggusur Jepang. Posisi tersebut kemudian dipertahankan China hingga kini.
Salah satu bintang yang muncul di New Delhi adalah Li Ning. Atlet senam berusia 19 tahun itu meraih empat emas. Ia kemudian menjadi salah satu atlet paling dikenal di China sekaligus pengusaha olahraga.
China selanjutnya menjadi tuan rumah Asian Games untuk pertama kalinya di Beijing pada 1990.
Persiapan pesta olahraga tersebut sempat menghadapi kekurangan dana sekitar 600 juta yuan. Sumbangan 1,6 yuan dari seorang anak bernama Yan Haixia kemudian ikut memicu gerakan penggalangan dana nasional yang menghasilkan total 270 juta yuan.
Di hadapan publik sendiri, China meraih 183 emas. Namun, Asian Games Beijing juga meninggalkan pesan persahabatan dari berbagai kontingen.
Dua dekade kemudian, Guangzhou menjadi tuan rumah Asian Games 2010. Kondisi China telah berubah drastis setelah menjadi ekonomi terbesar kedua dunia.
China kembali mendominasi dengan 199 emas, sementara olahraga semakin bergeser dari sekadar mengejar kemenangan menuju aktivitas yang dinikmati masyarakat.
Pada Asian Games Hangzhou 2023, China kembali mencetak rekor dengan 201 emas. Teknologi menjadi salah satu ciri utama, termasuk kecerdasan buatan, augmented reality, serta program pembawa obor digital yang diikuti lebih dari 100 juta orang.
Di Nagoya tahun ini, China mengirim 815 atlet untuk tampil dalam 369 nomor dari 38 cabang olahraga. Kontingen tersebut mencakup 36 juara Olimpiade, termasuk juara Olimpiade tiga kali tenis meja Sun Yingsha serta peraih emas loncat indah Chen Yuxi dan Wang Zongyuan.
Rata-rata usia kontingen China adalah 24 tahun, dengan 548 atlet menjalani debut di Asian Games. Atlet kelahiran setelah 2005 mencapai 27 persen dari total kontingen, termasuk perenang berusia 13 tahun Yu Zidi dan sprinter 17 tahun Chen Yujie.
Dari Teheran 1974 hingga Hangzhou dan kini Aichi-Nagoya, perjalanan China di Asian Games mencerminkan perubahan besar olahraga negara tersebut sekaligus transformasi ekonomi dan sosialnya.
Artikel Tag: asian games
Published by beritautama.info at https://beritautama.info/olahraga-lain/dari-debut-hingga-dominasi-perjalanan-olahraga-china-di-asian-games










